CENTRALNEWS.ID, KARIMUN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah pusat mulai memberikan dampak strategis bagi daerah, termasuk Kabupaten Karimun.
Selain sebagai program sosial, MBG dinilai mampu menjadi penggerak ekonomi lokal jika dikelola dengan pendekatan berbasis potensi desa.
Bupati Karimun, Iskandarsyah, menegaskan bahwa program tersebut dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) apabila kebutuhan bahan pangan disuplai dari produksi masyarakat setempat.
Saat ini, jumlah penerima manfaat MBG di Karimun mencapai sekitar 70 ribu orang.
Dengan estimasi anggaran sekitar Rp700 juta per hari, potensi perputaran dana dinilai sangat besar, terutama jika distribusi dan transaksi sepenuhnya terjadi di dalam wilayah Karimun.
“Kalau ini bisa kita kelola dengan baik dan menyerap hasil produksi lokal, tentu akan menggerakkan ekonomi desa. Kita ingin program Presiden, terutama soal ketahanan pangan, bisa benar-benar terintegrasi sampai ke desa,” ujar Iskandarsyah, Jumat (27/2/2026).
Pemerintah Kabupaten Karimun kini mendorong setiap desa memiliki satu komoditas unggulan yang selaras dengan kebutuhan program MBG, khususnya sumber protein dan bahan pangan pokok.
Beberapa desa bahkan telah mempersiapkan sektor andalannya. Desa Moro dan Selat Mendaun mengembangkan budidaya ikan lele, sementara Desa Gemuruh fokus pada ikan nila.
Desa Pongkar mengandalkan peternakan ayam pedaging, Desa Lubuk mengembangkan ayam dan udang panama, sedangkan Desa Jang dikenal dengan produksi ayam petelur.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan menu bergizi dalam program MBG, sekaligus membuka peluang pasar yang stabil bagi petani dan peternak lokal.
Namun, Bupati menegaskan bahwa pendataan potensi desa masih terus dilakukan.
Pemerintah daerah akan menyusun pemetaan komprehensif agar pengembangan komoditas tidak tumpang tindih dan tetap memperhatikan data inflasi serta kebutuhan pasar.
Iskandarsyah menekankan bahwa peningkatan produksi harus dibarengi dengan pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, transformasi ekonomi desa tidak cukup hanya mengandalkan kerja keras, tetapi juga membutuhkan inovasi dan perencanaan berbasis data.
“Semua harus berbasis data agar tidak spekulatif. Dengan data yang jelas, kita bisa atur strategi pengembangan tiap desa supaya perputaran ekonomi benar-benar terasa manfaatnya,” tegasnya.
Upaya penguatan sektor pangan di Karimun juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui bantuan 500 ribu bibit kelapa dari Kementerian Pertanian untuk lahan seluas 500 hektare.
Komoditas kelapa dinilai memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan dan berpotensi menjadi sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat desa.
Dengan strategi yang terarah dan dukungan lintas sektor, Pemerintah Kabupaten Karimun optimistis Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi berbasis desa yang berkelanjutan.(yen)


