-0.5 C
New York
Rabu, Februari 21, 2024

Bekasap-206 jadi Saksi Insiden ‘Fatality’ di Wilayah Kerja PHR, Budaya K3 Dipertanyakan

CENTRALNEWS.ID, BENGKALIS – Sebuah kecelakaan nahas bersifat ‘Fatality’ terjadi dan menewaskan seorang pekerja PT APS di Wilayah Kerja (WK) Rokan yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Jumat (9/12).

Adalah Mi (24), mitra kerja PT PHR yang disebut menjabat posisi Swamper Lowbed ini dilaporkan tewas tertimpa Boom Crane kala beraktifitas di areal Bekasap-206, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis – Riau, sekira pukul 21.15 WIB.

Singkat cerita, kejadian itu bermula ketika tim di lapangan hendak menurunkan Crane dari truk pengangkutnya (Lowbed). Memulai taktik penurunan alat berat itu, sang operator dilaporkan menyalakan mesin dan mengangkat lengan disertai boom crane setinggi (+-) 2 meter.

Pengangkatan dilakukan agar tiang penyanggah yang ada di bawah lengan crane dapat diambil oleh Swamper Lowbed.

Ketika ornamen crane mulai terangkat, Swamper I dan Swamper II disebut naik ke atas Lowbed guna memindahkan tiang penyanggah. Saat hendak memindahkan tonggak penyanggah inilah, kecelakaan nahas terjadi.

Bekasap-206 jadi saksi bisu akan tewasnya Mi. Ia dilaporkan tertimpa boom crane pada bagian kepala dan ambruk seketika. Hal ini dibenarkan Senior Manager Relations Regional Sumatera PT PHR, Yudi Nugraha. Ia menjelaskan, pasca kejadian pekerjaan langsung dihentikan.

“Korban langsung dievakuasi dan dibawa ke Duri Medical untuk mendapat pertolongan medis. Namun sayang, mitra kerja ini wafat sekira pukul 21.30 WIB,” kata Yudi lewat keterangan resmi yang diterima tim CentralNews.id dari Humas PT PHR, Rinta.

Kejadian nahas berujung maut ini sontak menghentak setiap lini di dunia kerja, termasuk dalam kehidupan masyarakat secara luas. Banyak kalangan berpendapat dan mempertanyakan ‘Budaya K3’ di areal produksi minyak bumi yang dikuasai oleh PT PHR.

Pun demikian, budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau anyar disingkat K3 sontak dipertanyakan. “Apakah sebelum melakukan pekerjaan di lapangan para pekerja tidak memperhitungkan potensi bahaya (hazardous) apa saja yang bisa terjadi?,” seru Wawan, seorang pemerhati Safety K3 yang dulunya aktif berkecimpung kala PT Chevron Pacific Indonesia masih membumi di Blok Rokan.

Wawan menegaskan, setiap pekerjaan yang melibatkan pekerja dan alat berat, terutama yang memiliki potensi ‘kejatuhan’ atau ‘tertimpa’ benda dari ketinggian diwajibkan penelaahan bahayanya terlebih dahulu.

Pengayaan potensi bahaya dilakukan agar pekerja lebih peka terhadap situasi dan mampu meminimalisir risiko kecelakaan dalam operasional atau pekerjaan.

“Setiap masuk wilayah kerja, yang dilakukan adalah pengamatan dan analisis bahaya yang terdapat di sekitar. Setiap bidang pekerjaan punya sisi bahaya masing-masing. Mulai dari bahaya tingkat rendah, menengah bahkan fatality. Makanya ahli-ahli K3 wajib mendeskripsikan potensi bahaya dalam suatu pekerjaan, jadi pekerjanya bisa aman dan selamat atau minimal menggunakan alat pelindung diri yang mumpuni,” ujarnya.

Namun dewasa ini, berbagai kalangan mulai menyesalkan peristiwa itu dengan dugaan mulai kendornya sisi kewaspadaan dan mawas diri dalam melakukan pekerjaan. Terlebih, para pengawas dan ahli K3 seyogyanya wajib memberi teguran atau menghentikan suatu pekerjaan apabila mengandung unsur hazardous yang berpotensi mengancam nyawa pekerja.

Oil Company boleh berganti, tapi standart Safety tetap harus dijaga. Contoh akhir-akhir ini sering terlihat ada yang kerja di atas tiang listrik, ada juga yang bekerja di bawahnya. Mobil besar dan kecil bahkan alat berat seliweran tak karuan. Ini contoh pemandangan rawan laka kerja yang harus diubah,” tegur Jackson, sebagai tanggapan (komentar) pemberitaan terkait kecelakaan kerja yang menewaskan Mi di Bekasap-206.

Tanggapan lainnya dilontarkan Netizen bernama Lambok Lubis, disebut semenjak peralihan dari PT Chevron ke Pertamina Hulu Rokan, pengayaan Safety K3 terkesan kendor yang membuat para mitra kerja kurang mawas diri dalam pekerjaan.

Banyak ranah K3 yang terkesan kendor. Bisa jadi karena kurangnya perhatian atau human error. Apalagi, sekarang ini banyak Sub-Contractor berasal dari luar daerah. Jadi saya duga pengalaman K3-nya kurang mumpuni dan berisiko mendulang sederet pelanggaran K3 di wilayah kerja,” timpal Lambok.

Adapun komentar yang paling menohok dilontarkan oleh Robby Leonardo. Ia yang telah banyak menenggak pengalaman di bidang pekerjaan lapangan minyak bumi ini mengakui bahwa PT Chevron lah juaranya Hard Skills dan K3.

Chevron juaranya Hard Skills. Korporasi kelas dunia yang mengutamakan keselamatan dan keunggulan. Memanusiakan manusia dan sangat memperhatikan keselamatan para pekerjanya. Turut berduka cita atas kejadian yang menimpa pekerja PT APS, semoga almarhum tenang di alam sana dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan ikhlas,” sentil Robby.

Safety pasti di bawah zaman Chevron, udah cerita lama,” timpal komentar Sharvina Handayani.

Terlepas dari berbagai tanggapan masyarakat dan netizen di dunia maya, kecelakaan nahas itu memang sangat disesalkan serta menjadi tanda atau bukti (dugaan) kurang akuratnya penerapan Safety K3 di dunia kerja.

Meski demikian, manajemen PT PHR Yudi Nugraha menyebut pihaknya bakal melakukan analisis dan identifikasi di lapangan terkait kejadian ini. Selanjutnya, setiap hasil dari analisa dan identifikasi terkait laka tersebut bakal dijadikan evaluasi dan pembelajaran untuk pekerjaan yang lebih baik kedepannya.

“Saat ini kami akan lakukan analisa dan identifikasi terlebih dahulu. Hasilnya akan kami evaluasi untuk jadi pembelajaran. Hal ini merupakan komitmen kami untuk melindungi seluruh pekerja, mitra kerja dan masyarakat di wilayah operasional kami,” pungkas Yudi.(Nat)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

22,921FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles