CENTRALNEWS.ID, DURI – Tim Penyuluh Pencegahan – Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia lanjutkan misi penyuluhannya di wilayah Kecamatan Mandau, tepatnya di Kelurahan Pematang Pudu, Jumat (28/8).
Hari ini, rombongan Tim Penyuluh yang diketuai Staf Khusus KSAL sekaligus Ketua Tim Penyuluh, Brigjend. TNI (Mar) Freddy Jhon Hamonangan Pardosi hadir didampingi Kolonel Tek Wayan Joni Nugraha dan Mayor Inf. Sugianto menyambangi masyarakat di Kelurahan Pematang Pudu yang telah berkumpul di aula Kantor Kelurahan.
Didampingi Danramil 03/Mandau Kapten Czi. Suratmin, serta disambut Lurah Pematang Pudu M. Vicky, serta sejumlah pejabat terkait lainnya, tim penyuluh kembali menjangkau masyarakat dan menyampaikan pesan penting terkait pencegahan serta penanggulangan Karhutla di ‘Kota Minyak’.
“Penting Bapak dan Ibu sekalian ketahui, kedatangan kami sebagai tim penyuluh ke seluruh Kabupaten/Kota se-Provinsi Riau, termasuk ke Negeri Junjungan ini ditajak sebagai tindak lanjut untuk menangani serta menanggulangi kasus-kasus kebakaran dengan prinsip kerja yang aman, cepat dan selamat,” kata Brigjend. Freddy Jhon Halomoan Pardosi.

Dia menekankan pentingnya skema penanggulangan Karhutla dari ‘Hulu ke Hilir’ demi percepatan pemadaman titik api. Langkah ini dianggap krusial, untuk memastikan paparan asap hasil kebakaran tidak semakin parah dampaknya di tengah masyarakat.
Mulai dari kesiapan personel pemadam dari berbagai elemen dan lintas sektoral, ketersediaan sarana dan prasarana, ketersediaan sumber air, pengenalan medan di lapangan sampai dengan sistem pemadaman cepat-selamat dan bergotong-royong penting diserukan agar Karhutla yang terjadi dapat segera dipadamkan.
“Kita harus bekerja sama, agar Karhutla ini dapat segera dientaskan. Seluruh saran, masukan dan kendala yang dihadapi di lapangan dalam serangkaian pemadaman, akan kami catat dan sampaikan langsung kepada Bapak Presiden dan Pimpinan di tingkat pusat,” tegas Brigjend. Freddy.

Sesi diskusi konstruktif dan edukatif juga dibuka tim panelis penyuluhan, untuk menyerap polemik atau permasalahan yang kerap dihadapi sepanjang proses pemadaman Karhutla pada wilayah yang berjuluk ‘Negeri Junjungan’ tersebut.
Danramil Mandau dalam kesempatannya menjabarkan, seluruh langkah cepat tanggap telah dilakukan untuk mencegah bahkan menanggulangi kebakaran.
“Yang kami hadapi di lapangan, lokasi titik api berjarak cukup jauh dengan keadaan akses jalan yang sulit, sehingga armada pemadam tak bisa masuk dan menjangkau titik api. Dalam keadaan ini, kami terpaksa memakai pompa portabel dan menggelar gulungan selang pemadam untuk sampai ke pusat kebakaran. Hal ini menjadi keterbatasan tim gabungan di lapangan,” terang Kapten Suratmin.

Senada, Lurah Pematang Pudu pun mengungkapkan hal demikian. Bahkan lebih dalam, M. Vicky mengatakan bahwa para pemilik lahan yang terbakar mayoritas tidak bersomisili di wilayah Duri (luar daerah).
“Lahannya di sini, tapi yang punya entah dimana. Kami kesulitan mencari siapa pemilik lahan untuk dimintai keterangan serta pertanggung jawaban di lapangan. Karena sesungguhnya setiap pemilik lahan, apalagi gambut haruslah bertanggun jawab mengawasi lahannya masing-masing,” seru Lurah.
Sebagai penegasan, Kapolsek Mandau diwakili Aiptu. Pamil turut mengungkapkan bahwa penegakan hukum terus diupayakan sebagai efek jera terhadap para pelaku pembakaran hutan maupun lahan.

“Kami dari Polsek Mandau terus mengupayakan yang terbaik, termasuk dalam penegakan hukum. Sampai hari ini, kami terus menyebarkan maklumat berisi larangan pembakaran hutan dan lahan kepada masyarakat,” tegas Aiptu Pamil.
Hasil akhir dari penyuluhan tersebut, seluruh aparat kewilayahan di Kabupaten Bengkalis, Riau diharap lebih mampu, lebih sigap dan cekatan menanggulangi kasus-kasus kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.
Selain itu, beragam masukan, saran dan polemik yang terserap sepanjang penyuluhan, kemudian dihimpun untuk sepanjutnya dikemas rapi sebagai usulan yang akan dipaparkan di tingkat pusat. (Bres)

