13.3 C
New York
Selasa, Oktober 6, 2026

Respons Lonjakan Sampah MBG, KOMPAS 20 SMPN 20 Batam Sulap Sisa Makanan Jadi Pupuk Organik Cair dan Kompos

CENTRALNEWS.ID, BATAM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai diterapkan di berbagai sekolah membawa manfaat besar bagi kesehatan dan pemenuhan gizi peserta didik.

Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru berupa meningkatnya volume sampah organik dari sisa konsumsi harian.

Menjawab tantangan tersebut, SMP Negeri 20 Batam mengambil langkah inovatif melalui KOMPAS 20 (Komunitas Pelajar Asyik dan Cerdas SMP Negeri 20 Batam).

Komunitas yang digerakkan oleh para siswa ini berhasil mengembangkan sistem pengelolaan limbah organik menjadi produk bernilai guna, sekaligus memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.

Inovasi tersebut kini resmi didaftarkan sebagai salah satu peserta dalam Batam Innovation Award (BIA) 2026, ajang bergengsi yang diselenggarakan Pemerintah Kota Batam untuk mendorong lahirnya berbagai terobosan kreatif dan berdampak bagi masyarakat.

Baca Juga :  Tiga Mesin Pesawat Bekas Senilai Rp30 Miliar Diselundupkan dari Singapura, Polda Kepri Tetapkan 4 Tersangka

Melalui KOMPAS 20, para siswa secara aktif melakukan pemilahan, pengkajian, serta pengolahan limbah organik berupa sisa sayuran dan kulit buah hasil program MBG.

Limbah tersebut kemudian diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos berkualitas yang dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan serta perawatan taman sekolah.

Kepala SMPN 20 Batam, T. Fetti Aryani, S.Pd., mengapresiasi gerakan yang dinilai mampu mengubah potensi persoalan lingkungan menjadi peluang edukatif yang bermanfaat bagi sekolah.

“Jika tidak dikelola dengan baik, sisa konsumsi dari program MBG berpotensi menumpuk, menimbulkan bau tidak sedap, dan mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar,” kata T. Fetti Aryani, S.Pd.

“Melalui KOMPAS 20, kami mentransformasi limbah tersebut menjadi sumber daya yang bermanfaat untuk penghijauan sekolah. Dengan demikian, sekolah tetap menjadi ruang belajar yang sehat, bersih, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” ujar T. Fetti Aryani, S.Pd.

Baca Juga :  bright by PLN Batam Segera Diluncurkan, Urusan Listrik Makin Mudah dari Genggaman

Sementara itu, Ketua Tim Inovasi SMPN 20 Batam, Yesi Aprinel, S.Si., M.M., menjelaskan bahwa gerakan pengolahan sampah organik ini juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi sekolah sebagai Sekolah Adiwiyata yang berkelanjutan.

Menurutnya, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya mengajarkan siswa membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga harus menanamkan pemahaman mengenai ekonomi sirkular, pengelolaan sumber daya secara bijak, serta tanggung jawab kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Melalui pengolahan sampah organik harian yang dilakukan secara mandiri oleh para murid, kami berkomitmen mendukung program Adiwiyata sekolah,” sebut Yesi.

“Ini bukan sekadar persoalan pengelolaan sampah, tetapi bagaimana membangun budaya sekolah yang sadar lingkungan, produktif, dan berkelanjutan. Keikutsertaan dalam Batam Innovation Award 2026 menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan solusi nyata yang memberikan manfaat luas,” jelas Yesi.

Baca Juga :  Amsakar Ajak Masyarakat Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Batam

Dengan kolaborasi yang solid antara kepala sekolah, tim inovasi, guru pendamping, serta semangat para anggota KOMPAS 20, SMPN 20 Batam membuktikan bahwa sekolah mampu berperan aktif dalam mengelola dampak lingkungan dari program MBG secara mandiri dan kreatif.

Melalui ajang BIA 2026, SMPN 20 Batam optimistis inovasi KOMPAS 20 dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kota Batam untuk memperkuat identitas sebagai Sekolah Adiwiyata yang hijau, bersih, cerdas, berkarakter, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.(mzi)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

22,921FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles