CENTRALNEWS.ID , NATUNA – Tuduhan terhadap wartawan abal-abal yang dilontarkan akun anonim bernama “Anna Chapman” dalam grup WhatsApp publik di Kabupaten Natuna menuai kecaman. Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran saat di temui awak media,Minggu 15/02 ,menilai pernyataan tersebut sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers dan meminta aparat penegak hukum segera mengungkap identitas pelaku.
Pernyataan itu muncul dalam grup WhatsApp “Berita Natuna Grup CCTV-Nya Masyarakat Natuna” yang beranggotakan lebih dari 1.000 orang. Akun tanpa identitas jelas tersebut menyebut adanya oknum wartawan abal-abal yang dianggap merusak dan menghambat pembangunan Natuna, bahkan dikaitkan dengan rezim lama yang disebut korup.
Amran menegaskan, tuduhan tersebut berbahaya karena tidak menyebutkan identitas individu secara jelas, sehingga berpotensi menggeneralisasi dan menyerang seluruh profesi wartawan di Natuna.
“Menyebut wartawan tanpa menyebutkan orangnya secara spesifik sama saja menuduh satu wadah besar insan pers Natuna abal-abal,” tegas Amran.
Menurutnya, pernyataan tersebut mencederai prinsip demokrasi, mengingat pers merupakan salah satu pilar utama dalam sistem demokrasi. Ia menilai penyebaran tuduhan di ruang publik dengan jumlah anggota besar merupakan bentuk provokasi terbuka yang dapat memengaruhi opini masyarakat.
“Ini bentuk provokasi nyata karena disampaikan dalam grup terbuka dengan anggota lebih dari 1.000 orang,” ujarnya.
Amran yang telah aktif menulis di Natuna sejak 2004 mengaku baru pertama kali mendapati tudingan semacam itu terhadap wartawan di daerah perbatasan tersebut.
“Saya sudah menulis di Natuna sejak 2004. Baru kali ini ada pihak yang menyebut wartawan di Natuna abal-abal,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa mayoritas wartawan di Natuna telah mengantongi sertifikasi resmi melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Bahkan, sejumlah karya jurnalistik wartawan Natuna disebutnya telah meraih penghargaan dalam lomba karya jurnalistik tingkat nasional.
“Sekitar 99 persen wartawan di Natuna sudah ber-UKW. Artinya kualitas dan kompetensinya sudah teruji,” jelasnya.
Selain meminta aparat penegak hukum mengusut identitas akun anonim tersebut, Amran juga menilai admin grup memiliki tanggung jawab terhadap narasi yang beredar di dalam forum tersebut.
“Admin grup harus bertanggung jawab terhadap anggota yang memuat narasi liar,” tegasnya.
Ia mendesak pihak yang membuat tuduhan segera memberikan klarifikasi secara terbuka dan bertanggung jawab atas pernyataannya. Amran juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak memiliki dasar dan bukti yang jelas.
“Saya berharap masyarakat tidak terprovokasi oleh pernyataan sepihak tanpa data yang dapat merusak citra pers Natuna,” pungkasnya.(Herry)


