CENTRALNEWS.ID, BINTAN – Malam itu, laut di utara Pulau Tambelan gelap dan bergelombang.
Angin bertiup kencang ketika KM Safira Jaya, kapal pompong berukuran 6 GT, perlahan kehilangan keseimbangan.
Di tengah laut lepas, lima orang nelayan hanya bisa saling menatap, menyadari bahaya yang kian mendekat.
Semua bermula pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026, saat Muli Warman bersama empat anak buah kapalnya berangkat melaut dari Pulau Tambelan.
Seperti hari-hari sebelumnya, mereka berharap membawa pulang hasil tangkapan untuk keluarga di rumah. Hingga sore, kegiatan memancing berjalan normal.
Namun malam mengubah segalanya. Setelah mencari umpan di sekitar rompon dan kembali menuju lokasi awal, salah seorang ABK, El, merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Kapal terasa berat dan sulit dikendalikan. Ketika diperiksa, air laut telah masuk ke lambung kapal dalam jumlah besar.
Di tengah kepanikan, para ABK berusaha menyelamatkan kapal dengan membuang muatan agar beban berkurang.
Upaya itu sia-sia. Air terus naik, sementara gelombang makin tinggi.
Menyadari kapal tak bisa lagi diselamatkan, para ABK mengambil keputusan paling berat malam itu untuk menyelamatkan nyawa.
Sebuah fiber berkapasitas satu ton dikeluarkan. Muli Warman, Iwan Kusnadi, dan Wahyu berhasil naik ke atasnya.
Sementara itu, Fadhil dan El tak sempat ikut akibat terpaan angin kencang dan gelombang tinggi.
Dalam kondisi gelap dan dingin, keduanya hanya bisa bertahan dengan berpegangan pada tutup fiber, menunggu pertolongan sambil melawan rasa takut.
Sekitar 10 menit kemudian, KM Safira Jaya akhirnya tenggelam, membawa serta harapan para nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari laut.
Menjelang subuh, sekitar pukul 04.00 WIB, secercah harapan datang. Tiga ABK yang terombang-ambing di atas fiber diselamatkan oleh nelayan yang melintas.
Rasa lega bercampur haru tak terbendung ketika mereka akhirnya kembali menginjak perahu penyelamat.
Sementara itu, Fadhil dan El masih bertahan di laut. Dengan tenaga yang tersisa, keduanya terus berpegangan hingga akhirnya ditemukan nelayan lain pada Senin pagi, pukul 08.00 WIB.
Selamatnya dua ABK ini menjadi akhir dari malam panjang yang nyaris merenggut nyawa.
Kapolsek Tambelan, Ipda Abdul Rahman, memastikan seluruh awak kapal selamat dalam insiden tersebut.
Meski demikian, kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp400 juta.
“Tidak ada korban jiwa. Namun ini menjadi pengingat bahwa laut bisa berubah ganas kapan saja,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Kini, kelima ABK telah kembali ke daratan. Mereka selamat, namun trauma dan kerugian masih membekas.
Di balik angka kerugian, tersimpan kisah tentang keberanian, solidaritas, dan perjuangan para nelayan kecil melawan ganasnya laut.(ndn)


