CENTRALNEWS.ID, DURI – Untuk kesekian kalinya, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil (GSK) yang berada di Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis – Riau kembali diamuk sijago merah, Kamis (14/9).
Kebakaran kali ini dilaporkan terjadi di Dusun Bagan Benio, Desa Tasik Tebing Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis – Riau pada koordinat 1°15’30” North, 101°32’7” East yang telah menghanguskan sekira (±) 5 hektare lahan gambut bervegetasi belukar.

Tanggapi kejadian itu, Dandim 0303 Bengkalis Letkol. Arh. Irvan Nurdin instruksikan Danramil 03 Mandau Kapten. Arh. Jemirianto, kerahkan jajaran Bintara Pembina Desa (Babinsa) lakukan aksi penanggulangan bersama unsur Polri, BBKSDA, Damkar dan Manggala Agni – KLHK RI.
Di sekitar cagar alam tersebut, Dandim kerahkan pasukan menerobos hamparan semak belukar dan tebalnya lapisan gambut untuk sampai pada titik lokasi yang masih terdapat bara api berasap pekat. Sinergi dibangun agar penanggulangan Karhutla tersebut dapat diupayakan maksimal.

“Sampai saat ini, anggota kita bersama tim Satgas Karhutla masih berjibaku memadamkan api dan lakukan pendinginan pada kawasan cagar biosfer Giam Siak Kecil yang terbakar. Anggota kita langsung bergerak menyeberangi sungai dan merintis jalan untuk masuk dan mendekati titik api. Setelahnya langsung kita bongkar gulungan selang, kita operasikan mesin pompa air dan pasang nozle pemadam. Titik-titik yang nampak mengeluarkan asap atau bahkan ada sumber apinya segera kita guyur sampai betul-betul padam,” kata Letkol Irvan.
Adapun total luas lahan GSK yang saat ini telah berhasil dipadamkan sekira 0,5 hektare dan penanggulangannya masih diupayakan sampai detik ini. “Lokasi kebakaran cukup jauh jaraknya dari Koramil 03 Mandau, sekira 85 kilometer. Medan menuju titik api pun terjal serta harus menyeberangi perairan. Meski demikian, anggota kita tetap tangguh dan berhasil sampai ke lokasi,” ujarnya.

Selain pemadaman jalur darat, bantuan udara menggunakan Helikopter water boombing juga gencar dilakukan oleh BNPB maupun pihak swasta. Sinergitas nan kompleks ditonjolkan untuk memadamkan api dan menyelamatkan paru-paru dunia yang menjadi sumber penghasil oksigen untuk bernapas sebagaimana juga telah diakui oleh organisasi internasional, UNESCO.
Pihaknya komitmen dan berupaya maksimal tanggulangi Karhutla guna selamatkan GSK yang menjadi rumah hidup banyak Flora dan Fauna langka-dilindungi negara dari ambang kepunahan akibat amukan bara api. “Tak ada kata mundur meski jarak tempuhnya jauh, medannya sulit, minim stok air atau bahkan saat kita tahu bahwa titik api berada di dalam teritorial atau daya jelajah binatang buas jenis Harimau Sumatera. Kita tetap maju dan selamatkan habitat si ‘Datuk Belang’ dari ambang kerusakan akibat kebakaran,” tukasnya. (Bres)