-10.7 C
New York
Minggu, Februari 1, 2026

DBD Masih Mengintai, Awal 2026 Tanjungpinang Sudah Laporkan 14 Kasus

CENTRALNEWS.ID, TANJUNGPINANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang mencatat lonjakan signifikan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang tahun 2025.

Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah mengingat tren peningkatan yang cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Dinkes, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 497 kasus DBD terjadi di berbagai wilayah Kota Tanjungpinang.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup mencolok jika dibandingkan dengan tahun 2024.

Memasuki awal tahun 2026, tren peningkatan masih berlanjut. Hingga awal Januari, Dinkes kembali mencatat 14 kasus DBD yang telah terlaporkan.

Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Rustam, mengatakan bahwa pendataan kasus dilakukan secara menyeluruh hingga tingkat kelurahan untuk memastikan penanganan yang tepat sasaran.

“Pendataan dilakukan di setiap kelurahan. Jika dibandingkan, jumlah kasus pada 2025 memang lebih tinggi dari 2024. Sementara untuk awal 2026 ini sudah tercatat 14 kasus,” ujarnya, Kamis (8/1/2026).

Dari sisi kelompok usia, kasus DBD paling banyak menyerang warga berusia di atas 15 tahun dengan persentase mencapai 48 persen.

Sementara itu, kelompok usia 5 hingga 14 tahun menyumbang 42 persen, dan kelompok balita tercatat sebesar 10 persen.

Rustam menjelaskan, dalam enam bulan terakhir tahun 2025, jumlah kasus DBD berada pada kisaran 40 hingga 50 kasus per bulan.

Peningkatan tersebut umumnya terjadi saat musim hujan, dengan puncak kasus tercatat menjelang akhir tahun.

“Musim hujan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kasus, terutama pada periode akhir tahun,” jelasnya.

Ia juga mengakui masih adanya sejumlah kendala dalam upaya pengendalian DBD di lapangan.

Beberapa di antaranya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk, kondisi sanitasi lingkungan yang belum optimal, serta cuaca yang cenderung tidak menentu.

“Kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan, ditambah kondisi sanitasi dan perubahan cuaca yang fluktuatif turut memengaruhi penyebaran DBD,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tanjungpinang terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penerapan gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Selain itu, upaya fogging atau pengasapan juga rutin dilakukan di wilayah yang terdeteksi terdapat kasus DBD guna memutus mata rantai penularan nyamuk Aedes aegypti.

“Kami terus melakukan fogging di titik-titik terdampak sebagai langkah pengendalian,” ujarnya.

Rustam pun optimistis angka kasus DBD dapat ditekan apabila terjalin kerja sama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat.

Menurutnya, kesadaran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama pencegahan penyakit yang berpotensi mematikan tersebut.(ndn)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

22,921FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Articles