CENTRALNEWS.ID, BATAM – Puluhan rumah di Kavling Sei Tering, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Batam, tertimbun lumpur dan material batu, Jumat (20/2/2026).
Peristiwa tersebut terjadi setelah tanah dari bukit yang sedang dipotong oleh sebuah perusahaan di sekitar lokasi longsor dan mengalir ke permukiman warga.
Material lumpur berwarna kuning pekat itu masuk hingga ke dalam rumah dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa.
Kejadian yang berlangsung pada malam hari membuat situasi semakin mencekam.
Beberapa penghuni bahkan sempat terjebak di dalam rumah saat lumpur menerobos masuk.
Hingga keesokan paginya, warga masih berjibaku membersihkan sisa-sisa lumpur yang menggenangi rumah mereka.
Perabotan, peralatan elektronik, hingga dokumen penting banyak yang rusak akibat terendam.
Warga mengaku kecewa dan tidak menyangka aktivitas pemotongan bukit di dekat permukiman bisa berdampak separah ini.
Mereka menilai pihak perusahaan tidak menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan lingkungan sekitar.
Ketegangan memuncak saat sebuah truk perusahaan bersama belasan pekerja datang ke lokasi.
Warga yang sudah berkumpul di lorong perumahan langsung mempertanyakan tanggung jawab perusahaan atas kerusakan yang terjadi.
Namun, kedatangan pekerja yang hanya membersihkan jalan dari tumpukan tanah tanpa menyentuh rumah warga memicu kemarahan.
“Tahan! Hentikan dulu truknya. Kami minta pihak perusahaan datang berdialog dengan warga, jangan cuma bersihkan jalan,” teriak seorang warga yang menghadang kendaraan tersebut.
Sejumlah ibu-ibu turut meminta aktivitas di lokasi pemotongan lahan dihentikan sementara hingga ada kejelasan tanggung jawab.
Perdebatan pun tak terhindarkan, suasana sempat memanas.
Ketua RW 7, Siti, dengan nada tegas menyatakan warga menuntut pertanggungjawaban penuh dari perusahaan yang melakukan aktivitas di bukit tersebut.
“Kami ingin perusahaan bertanggung jawab. Warga kami yang jadi korban. Jangan bertindak seolah tidak ada masalah,” ujarnya lantang di hadapan pekerja.
Warga terus berdatangan ke lokasi, membuat situasi semakin tegang.
Mereka mendesak agar pihak manajemen perusahaan segera menemui warga dan memberikan solusi nyata atas kerusakan yang ditimbulkan.(mzi)


